Selasa, 10 Januari 2012

KRITERIA BAHAN AJAR SEJARAH YANG BAIK

KRITERIA BAHAN AJAR SEJARAH YANG BAIK

Bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak sehingga tercipta lingkungan/suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar. Dalam proses kegiatam belajar mengajar di kelas, seorang guru harus menentukan bahan ajar apa yang akan dipakai atau yang akan digunakan agar dapat mencapai Standar Kompetensi (SK) yang sudah ditentukan.
Untuk mencapai SK yang sudah ditentukan, seorang guru harus menentukan kriteria tertentu dalam menentukan bahan ajar yang akan diterapkan kepada anak didiknya. Kriteria yang paling baik di Indonesia dalam menentukan bahan ajar yaitu sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Namun seorang guru harus mengembangkan sendiri bahan ajar apa yang akan diterapkan kepada siswa.
Berikut adalah kriteria bahan ajar sejarah yang baik versi kelompok 9 :

1.      Sesuai dan menunjang standar kompetensi dan kompetensi dasar (SKKD)
Kriteria  bahan ajar yang paling utama yaitu mengacu pada standar kompetensi dan kompetensi dasar. Hal ini berarti bahwa materi pembelajaran yang dipilih untuk diajarkan oleh guru dan harus dipelajari siswa di pihak lainya hendaknya berisikan materi yang menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Jadi apabila bahan ajar yang disampaikan guru tidak sesuai dengan SKKD, maka sudah dapat dipastikan  bahwa bahan ajar tersebut salah. Misalkan bahan ajar untuk pelajaran matematika disampaikan pada pelajaran sejarah. Namun untuk menentukan bahan ajar tersebut sesuai dengan SKKD atau tidak adalah hal yang mudah bagi seorang guru.

2.      Menumbuhkan minat belajar sejarah
Bahan ajar yang dipakai guru di dalam menyampaikan materi kepada siswa harus menumbuhkan minat belajar sejarah pada diri siswa. Apabila siswa memiliki minat dalam belajar sejarah maka dengan sendirinya siswa akan segenap hati dalam mempelajari sejarah. Apabila bahan ajar yang diterapkan seorang guru justru membuat siswa semakin enggan dalam mempelajari sejarah maka guru tersebut harus melakukan perbaikan dalam menyampaikan bahan ajar sejarah.
3.      Ditulis dan dirancang khusus untuk siswa didiknya
Aplikasinya dalam menyampaikan bahan ajar dari seorang guru pada siswanya yaitu bahan ajar tersebut dibuat dan dirancang khusus untuk siswa didiknya. Maka akan sangat keliru apabila bahan ajar mahasiswa pasca sarjana disampaikan pada siswa SMP. Untuk hal ini guru harus dapat memilah mana bahan ajar yang benar-benar akan disampaikan agar sesuai dengan kemampuan siswanya dalam mencapai SKKD.

4.      Disusun dengan pola yang fleksible
Untuk dapat mudah lagi diterima oleh siswa, bahan ajar tersebut harus fleksible. Hal ini berarti bahan ajar tersebut tidak kaku dan terlalu terpaku pada proses belajar yang sedang berlangsung. Terkadang siswa menemukan pertanyaan-pertanyaan atau permasalahan baru, apabila seorang guru terlalu terpaku pada bahan ajar yang ada maka pembelajaran sejarah itu tidak akan berkembang. Maka bahan ajar tersebut harus dibuat dan diterapkan secara fleksible.

5.      Srtuktur berdasarkan kebutukan siswa
Dalam bidang studi sejarah terdapat banyak materi atau bahan ajar yang membahas tentag sejarah. Misalkan saja untuk membahas tentang kolonialisme. Indonesia dijajah selama lebih dari 3,5 abad. Maka tidak mungkin untuk menyampaikan seluruh peristiwa yang terjadi selama 3,5 abad tersebut dalam pertemuan yang singkat pada pelajaran sejarah. Sekalipun menyesuaikan SKKD, tuntutan yang dibebankan kepada siswa terlalu banyak sedangkan waktu yang diberikan sangat dirasa tidak cukup. Agar dalam penyampaian bahan ajar oleh guru dapat  berjalan baik maka struktur bahan ajar tersebut harus disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Yang terutama yaitu poin-poin pokok dalam SKKD dapat tercapai dengan waktu dan bahan ajar yang ada.

6.      Meningkatkan daya hafal, daya aplikasi, dan daya menemukan (analisa).
Daya hafal terbagi dalam 2 jenis,  yaitu menghafal verbal (remember verbatim) dan menghafal parafrase (remember paraphrase). Menghafal verbal adalah menghafal persis seperti apa adanya. Terdapat materi pembelajaran yang memang harus dihafal persis seperti apa adanya, misalnya nama orang, nama tempat, nama zat, lambang, peristiwa sejarah, nama-nama bagian atau komponen suatu benda, dsb. Sebaliknya ada juga materi pembelajaran yang tidak harus dihafal persis seperti apa adanya tetapi dapat diungkapkan dengan bahasa atau kalimat sendiri (hafal parafrase). Yang penting siswa paham atau mengerti, misalnya paham inti isi Pembukaan UUD 1945.
Daya aplikasi Materi pembelajaran setelah dihafal atau dipahami kemudian digunakan atau diaplikasikan. Jadi dalam proses pembelajaran siswa perlu memiliki kemampuan untuk menggunakan, menerapkan atau mengaplikasikan materi yang telah dipelajari. Penggunaan fakta atau data adalah untuk dijadikan bukti dalam rangka pengambilan keputusan. Penggunaan materi konsep adalah untuk menyusun tindakan-tindakan apa yang akan dilakukan di masa depan. Selain itu, penguasaan atas suatu konsep digunakan untuk menggeneralisasi dan membedakan. Penerapan atau penggunaan prinsip adalah untuk memecahkan masalah pada kasus-kasus lain. Penggunaan materi prosedur adalah untuk dikerjakan atau dipraktekkan. Penggunaan materi sikap adalah berperilaku sesuai nilai atau sikap yang telah dipelajari. Dalam pembelajaran sejarah  istilah yang beredar dalam lingkungan sejarah yaitu belajar dari sejarah. Sesuatu yang sudah terjadi di masa lalu dijadikan pelajaran agar masa depan lebih baik.
Yang dimaksudkan penemuan (finding) di sini adalah menemukan cara memecahkan masalah-masalah baru dengan menggunakan fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang telah dipelajari. Menemukan merupakan hasil tingkat belajar tingkat tinggi. Gagne (1987) menyebutnya sebagai penerapan strategi kognitif. Misalnya, setelah mempelajari tentang  perang kemerdekan siswa dapat menarik kesimpulan kecil bahwa kemerdekaan indonesia direbut oleh masyarakat indonesia dari seluruh elemen. Baik itu agama, suku, maupun ras di indonesia sehingga siswa mengetahui bahwa mereka harus menjunjung persatuan dan kesatuan. Bukanya setelah mempelajari tentang perang kemerdekaan mereka justru semakin semangat untuk melakukan aksi tawuran dengan sekolah lain. Itu adalah aspek yang harus diperbaiki seorang guru dalam mendidik siswanya agar yang tercapai hasil sesuai dengan SKKD dan bukan hal yang lainya.
Namun di luar semua kriteria yang disebutkan di atas, guru sejarah selalu dapat melakukan improfisasi dalam memberikan materi kepada siswa. Terkadang dalam satu sekolah saja terdapat dua guru sejarah yang cara mereka memberikan materi dengan etode dan media yang mereka gunakan berbeda, selama dapat mencapai SKKD maka itu akan lebih baik karena terdapat berbagai meode, media, dan sumber untuk membuat bahan ajar yang baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar